Makan-makan di Singapura
February 5th, 2010Setelah kemarin-kemarin membahas tentang masakan Ibis yang lezat banget, sekarang saatnya untuk menjelajahi kuliner Singapura.
Kami sampai di Singapura jam 5 sore waktu Singapura. Betty sudah menunggu di hotel, dan menemani kami check in. Lalu kami taruh barang-barang di kamar dan bergegas turun kembali karena Betty sudah nunggu di bawah. Eh, masih ingat Betty kan? Dia yang menemani kami selama di Singapura kemarin.
Setelah turun ke lantai 1, (kamar kami di lantai 13), kami langsung diajak Betty jalan ke Bugis Junction, shopping center terbesar di Singapura yang letaknya dekat banget sama Ibis. Tinggal nyebrang tok, nyampe.
Betty nggak cuma ngajak kita muter-muter ke sekitar bugis, tapi juga ngajarin caranya beli tiket MRT dan membaca peta MRT. She is helpful.
belajar beli tiket MRT
Nggak terasa kami ngiter bugis sampai matahari terbenam. Berarti sudah jam setengah 8 malam. (iya, di Singapura mataharinya terbenam jam setengah 8 malam. Asik ya?) Hoo.. laper banget rasanya, apalagi kami nggak sempat makan siang. Setelah Betty pulang, kami cari makan di sekitar Bugis aja.
Ternyata itu yang namanya food court guedenya minta ampun. Banyak banget makanannya, bikin kami kebingungan. Mau makan apa nih? Semua terlihat enak!
Food court di Bugis yang besar dan penuh orang. Padahal senin
Setelah kebingungan cari makanan (dan cari tempat duduk!), aku memutuskan untuk manjain tenggorokan dulu dengan beli es leci seharga $1, sedangkan yang lainnya beli es nanas seharga 80 sen. Murah ya? Leci dan nanasnya banyak pula
Setelah dahaga terlepas, kami bergerilya cari makanan. @salsabeela dan @unwinged berhasil menemukan makanan India sebagai makan malam. Mereka pesan nasi goreng India dan Roti prata with curry.
nasi goreng India: merah tapi nggak pedes
curry with roti pratha
sedangkan mama & papa memutuskan untuk makan fish ball. Mi baso ikan yang porsinya gede
mi kuah baso ikan, panas dan mengenyangkan
Aku? Saking bingungnya aku malah nggak nemu makanan
dan akhirnya beli es leci sekali lagi untuk mengganjal perut. Lumayaan..
Dalam perjalanan kembali ke hotel, ternyata kami menemukan food court (lagi) di sepanjang jalanan. Udah gitu makanannya menarik semua. Yeehh tau gitu tadi kesini aja! Akhirnya aku minta sekeluarga untuk menemani aku makan di warung vegetarian dan aku memesan nasi goreng olive and vegetables. Saking laparnya, aku malah ngga motret nasi gorengnya, melainkan motret mas-mas waiter-nya yang ngomongnya pake aksen cina kental, “fled lais? and olenjus?” (friend rice and orang juice), dan ketika @unwinged pesen kopi, dia nanya, “one ol dua?” (one or dua?) Ye.. bahasa dicampur aduk gitu ajah.
mas-mas warung vegetarian
Setelah kenyang, kami berjalan kembali ke hotel dan… nyasar T_T. Jadi, sesampainya di hotel, aku mandi air panas dan berganti baju. Lelah langsung hilang… tapi laper lagi karena nyasar 
Akhirnya aku, @salsabeela, dan @unwinged dengan berjingkat pergi ke 7 eleven, toserba di sebelah hotel. Jam 11 malem ternyata nggak cuma kita, loh yang beli makanan. Masih banyak juga yang beli makanan quick bite.
24h 7 eleven
Kami bertiga beli sandwich yang sesuai dengan selera masing-masing dan memanaskannya di microwave yang disediakan oleh 7 eleven… dan berhasil membuat kotor microwave sono dengan lumeran keju
(ngisin-isini).
Karena takut ketahuan, kami menyusup keluar 7 eleven . Berusaha supaya tidak terlihat ada keju keleleran.
Kami makan di teras 7 eleven dengan menghadap ke jalan raya, lalu kembali ke hotel dengan perasaan kenyang dan tenang, sehingga tidur kamipun nyenyak.
Pagi hari berikutnya, setelah sarapan, kami diajak Betty untuk mengitari hotel. Bukan sekedar ngiter kaya gasing, tapi jalan-jalan di sekitar hotel. Ternyata banyak banget yang bisa ditemukan di sana, dan sangat deket dari hotel. Cerita lengkap tentang jalan-jalan itu bisa dibaca di sini.
Ternyata yah, di dekat Ibis itu ada banyak kampus seni, sehingga bangunannya juga nyeni.
La Salle University
kampus khusus fashion design
Dan di sekitar hotel juga, kami ditunjukkin sama Betty sebuah gereja yang udah alih fungsi sebagai restoran.
gereja yang nampak depan
Sayangnya waktu kita kesana, cafenya belum pada buka. Biasanya mereka bukanya di sore hari.
rombongan cafe-cafe di gereja
Di gereja itu ngga cuma ada western food, tapi juga ada makanan jepangnya.
sushi dan lelang ikan
Seperti yang sudah kutulis, di hari kedua kami sukses dibuat kekenyangan oleh pihak Ibis dengan belasan makanan yang disajikan. Setelah beristirahat “menurunkan makanan” di kamar hotel, sekitar jam 4 sore, kami uji nyali untuk ke IKEA sendiri, tanpa guide. Jadilah nanya ini itu sini situ.. sebelum akhirnya sampai di IKEA. 
IKEA Alessandra
Menurutku IKEA adalah salah satu dari 7 keajaiban dunia haha. Masa dia bisa bikin rumah dengan ukuran 22m persegi jadi terlihat chic. Itu kan ajaib.
rumah 22 m2. Dapurnya aja cihui
Ngga cuma ada keajaiban desain di IKEA, tapi juga keajaiban anak-anak
bermain
Anak-anak cowok bermain masak-masakan di dapur khusus anak-nya IKEA yang bahkan lebih lengkap dari dapur di rumah sayah
Setelah capek berdecak kagum di IKEA, malam harinya kami berjalan-jalan ke Clarke Quay yang bagus banget. Apalagi kalau malam, lampunya benar-benar membuat mata nggak mau berhenti mandang
di sungai
Pantulan lampunya di sungai itu loh yang bikin terpana. Capeknya nyari jalan rasanya hilang setelah lihat pemandangan.
Lagi asyik-asyiknya jalan, aku nemu seorang penjual es krim Turki (kalau nggak salah namanya Clapado). Sayang, karena aku sendirian dan tidak ada saksi mata, maka nggak ada juga foto yang menyertai. (gimana sih ini , fotografer?!)
Es krim ini seharga $3 saja dan boleh milih 2 rasa. Aku milih rasa pistachio (enak banget!!) dan coklat. Terus kata penjualnya yang berhidung panjang khas orang Turki, “this is special for you”, sambil nambahin satu rasa lagi, vanilla, GRATIS!! Yippie!!! (tau gitu gue beli 5).
Ice cream Turki ini teksturnya beda banget sama es krim punya kita. Es krim Turki nggak mudah meleleh, dan teksturnya mirip dengan jelly. Ngga gampang dijilat gitu aja, harus di”potong” pake gigi. Dan cara masukkin ke cup-nya juga ngga pake sendok es krim biasa, tapi pakai sejenis “pedang” or something hehe..
Kira-kira kaya begini gambarannya Turkish Ice Cream

http://dancruz.blogspot.com
lapak turkish ice cream di Clarke Quay
Bikin ngiler banget kan? Memang!! Memang!! Es krimku sampai jadi rebutan sekeluarga karena es krim ini memang juara. Kembalikan $3 ku! *lebay*
Ah… jadi pengen Turkish ice cream lagi..
Kemudian pencarian dilanjutkan ke cafe halal, dan pilihan kami jatuh ke The Coffee Connoisseur, cafe di pinggir sungai di Clarke Quay. Mas-masnya orang Melayu yang lebay abis. Di cafe itu aku membeli fruity delight sebagai minumannya dan vege eleganza sebagai makanan. Kata masnya, fruity delight itu gelasnya setinggi separuh badan kita. Jelas aja aku langsung syok, terus dia bilang dengan santainya “saya gurau” sambil berlalu. Cih! Ternyata cuma segini gelasnya *lega*
fruity delight di The Cofee Connoisseur
Minuman ini berisi air perasan jeruk disertai bulir jeruknya, sirup merah, air soda, 2 buah plum kecil, strawberry, leci, dan daun mint. Sllrp!
Dan ini makanannya
vege eleganza
Vege eleganza ini isinya sayuran yang dipanggang. Tapi uenak buanget! Kalau kurasa-rasa, isinya adalah brokoli, pumpkin, tomat, paprika, jagung manis pipil, dan keju mozarella di tengah dan di atasnya. Udah aja gitu, nggak pake bumbu apa-apa. Tapi enaknya bukan main! Hebat banget yang punya ide bikin beginian. Anak-anak yang anti sayur juga pasti bakalan suka. Selamat mencoba, ibu-ibu.
@salsabeela memesan burger yang tak kalah enaknya
burger porsi jumbo
dan ice lemon tea, as always
gelasnya lucu ^^
yang lain pesan apa, aku nggak begitu perduli (haha). Soalnya udah laper, jadi langsung main hajar aja. Tapi ternyata si @unwinged motretin makanan yang lain juga. Jadi kalau ke The Coffee Connoisseur, tinggal pilih yang gambarnya sama aja hehe.
dunno-what-it-is-1
dunno-what-it-is-2
and
dunno-what-it-is-3
makanan di sini sehat-sehat dan enak, plus harga makanan yang masih masuk akal
Setelah kenyang, kamipun kembali ke hotel dan kembali nyasar
.
Hari ketiga kami isi dengan mengikuti tour yang sudah di arrange oleh Betty dan juga berkelana ke Sentosa Island. Di Sentosa itulah untuk pertama kalinya di Singapura kami dilanda kelaparan. Ternyata sulit cari makan di Sentosa. Lebih gampang cari pantai
Setelah berjalan kesana kemari, akhirnya kami menemukan DeliFrance. Haha.. ujung-ujungnya balik ke Deli France. Kaya di Jakarta ga ada aja. Tapi di situ kita bisa beli 2 sandwich hanya dengan $10. Lagi ada promo gitu. Jadilah kami beli sandwich
sandwich $10 for two
dan juga menikmati aksen lucu dari waiter-nya yang orang India ketika harus mengucapkan “bonjour” kepada setiap tamu yang datang. Mereka terdengar seperti berkata “bongjyuh”. Hehe… agak geli untuk aku yang ngerti bahasa Prancis
Berkat sandwich inilah kami bisa survive sampai malam dan menyelesaikan segala “tugas” kami di Sentosa Island. *happy tears*
Lalu kami pulang dengan menggunakan MRT tanpa nyasar (kali ini sudah hafal haha), dan nongkrong di warung Nasi Lemak. Kaya warteg khusus mahasiswa gitu. Dan kami semua makan nasi lemak dengan lahap.
Setelah kekenyangan, kami kembali ke hotel, mandi air panas, dan tidur dengan nyenyak. Esok harinya aku, @salsabeela, dan @unwinged berpisah dengan mama dan papa. Mama dan papa kembali ke jakarta, sedangkan kami naik ferry ke Batam.
Bagaimana makanan di Batam? Tunggu cerita berikutnya ya. ^^












halooo..
kunjungan balik ni…
wah enak yoo jalan2 ke Sing..
eh, kamu semarangnya dmn? temennya Risa, kah?
Wah makasih udah berkunjung ^^
Iyo enak.. dolan soale haha
Aku di Ngesrep. Kamu?
Ho’oh nih, temen Risa… dari SMP ceritanya